Minggu, 05 Agustus 2018

Hendak mengamuk tiada berkeris

"Hendak mengamuk tiada berkeris"

Dentum meriam menggegar bumi
Gaung menggema keserata negeri
Berdiri bangsa yang dikagumi
Laksana permata yang dicemburui

Bukan dengan senyuman diteguhkan
Dari airmata dan darah jadi taruhan
Berabad hujan panas dipayungkan
Suka dan duka sayang sayangkan

Tergoda janji bahgia semangat merdeka
Terdulu sorak negeri tergadai
Tahta diserah genggaman hampa
Patah sayap helang dilembah
Bertongkat paruh kebuluran menerpa
Kuku tidak lagi setajam baja
Menunggu maut dikala senja
Rabun dimamah usia

Bangsaku hilang arah dan tuju
Tiada dahan tempat berpaut
Disekeliling mata menuju
Berselera lezat ingin memangku
Nafsu jahat mencabik negeri

Aku marah...
Aku keciwa...
Pandang depan dan belakang
Pandang kiri dan kanan
Amarah membahang jua
Bertikam hati sendiri
Hendak mengamuk tiada berkeris
Kuasa hilang lidah tak masin
Tiada yang gerun
Senye pasir digurun

Di lautan sakti rantau bertuah
Amukan hampa pendekar hilang pandangan
Antara musuh dan kawan
Manusia dan binatang
Putih dan hitam
Halal dan haram samar menyamar

Keris sudah tiada dijunjungan
kiranya airmata tercurah dikala gelita
Menunggu cahaya di bendang pagi.

(Hardiansyah bin abdurrahman)
Pekanbaru 4.8.2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar