Selasa, 01 Oktober 2019

PANTUN SRI PAHLAWAN

Pantun Sri pahlawan

Gagah perkasa datok laksemana
Keris sebilah tersisip dipinggang
Pahlawan berani bijak laksana
Berundur langkah ia berpantang

Sauh dilabuh ke arah hilir
Kapal bermalam ditanjung tuan
Peluh bercucur darah mengalir
Kerana bangsa rela terkorban

Terbang helang ke atas angkasa
Tiba diawan menyongsong pergi
Terbilang negara ternama bangsa
Jasa pahlawan dijunjung tinggi

Pekanbaru riau 13 Nov 2018
Hardiansyah bin abdurahman.

PANTUN PUSAKA MELAYU

Pantun pusaka warisan.

Kemana perginya siburung merbah
Terbang ke hutan mencari makan
Lautan sakti rantau bertuah
Tanah warisan zaman berzaman

Bakau di laut akarnya tinggi
Tebang sebatang buat titian
Walau bertangkup langit dan bumi
Adat pusaka dibuang jangan

Jika hendak melayur mengkuang
Hidupkan api ambil baranya
Jika hendak melayu terbilang
Hidup dan mati pusaka dijaga.

Hardiansyah bin abdul rahman
Pekanbaru riau rabu 7 Nov 2018.

PANTUN TUA DI INDRAGIRI, MELAYU, KELING, CHINA.

PANTUN TUA DI INDRAGIRI, MELAYU, KELING, CHINA.

Dua keling dua melayu
Berdua china cukup berenam
Tangkai kering bunga tak layu
Pandai nian adik menanam

Kajian.
1. Orang melayu adalah orang yang paling tinggi toleransinya sejak dahulu melayu china india sudah bisa hidup berdampingan. Tanah melayu yang kaya dan ramai menjadikan china dan india datang untuk berniaga.

2. Makaud pantun adalah seorang istri yang tidak disukai oleh mertua tapi istri tersebut tetap sayang mertua dan suaminya.

Pesanan:
Walaupun china india ramai ditanah melayu tapi mereka tak boleh jadi pemimpin kalau mereka jadi pemimpin nanti mereka akan membawa orang mereka menjadi pemimpin pula lama lama penuh pemimpin dari kalangan mereka kita orang melayu akan tersingkir satu hari nanti.

PANTUN BUDI BAHASA

Pantun budi bahasa.

Intan disalut emas suasa
Dibuat cincin sedap dipandang
Harta dan rupa akan binasa
Budi bahasa diingat orang

Jangan dititi titian lapuk
Jalan lama masih terang
Jangan tuan berkelakuan buruk
Hina bangsa disebut orang

Hujan dirimba mengarung rembas
Pulang melintas ke selat nama
Kata dijaga akhlak dihias
Orangkan suka bangsa ternama.

-Hardiansyah bin aburahman-
Pekanbaru riau 14.12.2018

PAHLAWAN KUANTAN JUARA TEPIAN NAROSA KUANTAN 2019

PAHLAWAN KUANTAN CAHAYO KUANSING.

Meluncur jalur menggaris pantai
Meriak air mengeruh sungai
Haluan menari anak gemulai
Mata terjurus pengayuh sampai

1 2 3 mula dihitung
Darah berkecamuk di jantung
Urat berkecamul di nadi
Tulang berkecamuk di daging
Badan basah hati terbakar
Di dada sungai kuantan

Kayuh serentak
Pekik sesorak
Tenaga koyak
Jalur terjalajak
Otot dan hati sama sebijak
Di dada sungai kuantan nan bergejolak

Titik peluh menghujam pengayuh
Susah penat tidak mengeluh
Tidak dihirau panas dan teduh
Biar hilang asal terbilang
Pahlawan kuantan surut berpantang

Menyongsong arus
Menentang ombak
Membelah air
Menongkah jalur
Menuju batas puncak penamat
Deru bak lebah laju bak kilat
Semangat waja penuh membulat
Pahlawan kuantan cahayo kuansing nan keramat.

Untuk : Pahlawan kuantan cahayo kuansing juara 1 agustus 2019.
Penulis puisi: Hardiansyah bin abdurahman
PKU. 29 juli 2019.

Selasa, 24 September 2019

Minggu, 16 September 2018

Sultanku Payung Negeri

"SULTANKU PAYUNG NEGERI"

Lenguh kaki melangkah ke pelusuk negeri menjumpai saksi bisu semaraknya memiliki payung negeri

Lemas dalam pandangan anak negeri bercelomot tanah demi sesuap nasi, masa kecilnya untuk bermain habis dihukum kemiskinan, tak jauh dari gubuknya berdiri perusahaan gergasi tanpa peduli

Menitis airmata, surau buruk, jalan lapok, guru mengaji entah kemana merantaunya demi anak dan istri, agama hilang, bangsa tinggal kenangan, negeri tinggal sejengkal tangan cukup kelak untuk tanah mengkubur badan

Mana sultanku...mana sultanku...
Sultanku engkaulah payung negeri
Tempat kami bernaung diri dari panasnya kejahatan nafsu dunia yang ingin memah negeri, tanah dijarah, anak negeri ditakut takuti, budaya bangsa dihina dengan tiada segannya

Sultanku payung negeri
Paripada badai manusia durjana yang ingin menguasai pertiwi, tiada hormat dengan tuan negeri, datang dengan sombongnya bersorong dada, berhulu dikampong penghulu, beraja di negeri raja

Sultanku suluh negeri
Daripada kegelapan kebodohan, memberi cahaya penerangan di minda dan hati sehingga bisa membedakan benar dan salah, halal haram, Islam dan syirik.

Sultanku taming negeri
Pelindung dari hasrat serakah manusia yang ingin membunuh bangsa, biar melayu pecah dan berpisah serta bertelingkah sesamanya, mereka tertawa dalam tangisan kita

Sultanku payung negeri
Dengan daulatnya kami ada negeri
Dengan karismanya kami dihargai
Dengan bijaknya kami disanjungi
Dengan kegagahannya kami segani
Dengan tuahnya kami terbela
Dengan kasihnya kami sejahtera.

Sultanku payung negeri
Ialah benteng agama, tempat berpaut diri
mengadu gundah, menyapu airmata
Pengubat luka, penawar sengsara

Sultanku payung negeri
Di bawah naunganya kami merasai teduh
Segar badan menghirup bayunya beragama dan berbangsa

Tapi tanpa Sultanku...
Kami yatim piatu kemana hendak mengadu,
Nahoda tiada bintang, buih atas lautan, baling baling diatas bukit, cemas gulana jiwa hampa agama terlalai, pusaka terabai, bangsa terbengkalai, rakyat berkecai, kemiskinan membawa padah dunia dan akhirat

Arus zaman begitu deras, kami yang kerdil tiada daya untuk membendung, kerana tempat berpaut tiada. Sultanku kami merinduimu.

Dari: Hardiansyah bin abdurrahman
Untuk: Tengku mahkota Indragiri Tengku M A Mahara.
Dibuat: Selasa, Pekanbaru 21 Ogos 2018.