"Kemana hilangnya semangat Melayu"
Woi Melayu!
Woi pendekar!
Woi darah panglima!
Kemana perginya bahang membara jiwa pahlawan
Menjaga negeri dari musuh dan lawan
Kau bisu
Kau lena
Kau leka
Perahu mu nak karam
Di arus gelombang zaman
Bangun!
Bangun!
Bangun!
Bangun sudah teraba
Senjata lupa letaknya
Pakaian belum sedia
Pendekar hilang tamengnya
Air sudah separuh kapal
Pusaka sudah hilang tenggelam
Kau tetunduk kesal
Salah diri pusaka tak digenggam
Ada yang pasrah
Ada yang berdoa
Takkan menolong tanpa useha
Batu jatuh kelubuk
Bagun!!!!!!
Berpimpin tangan
Bersatu
Timba!!timba!! Kapal kau belum karam
Anak cucumu menanti pulang.
Hardiansyah bin abdurrahman
Pekanbaru.2.8.2018.
Selasa, 14 Agustus 2018
Minggu, 05 Agustus 2018
Rajuk ke malaya
"Rajuk ke malaya"
Mandi dan minum disungai Indragiri air mengalir ke selat Melaka
Hasrat terbawa arus, berenang, menyelam ke malaya, dada sesak, nafas tersengah dalam amukan kecewa
Tampil badan yang basah bergumal tanah dan airmuka samar terlihat, kering terbawa panas matahari
Kau bukan helang, paruh kecil cukup untuk minum seorang, degil sungguh akan berpadah malang
Tapi bendangku siapa menjaga, tanah pusaka diserang, surau lapok, pucuk kelapa melambai pulang, budaya bangsa tersampang di jerambah usang.
Hati benci tapi sayang, suara dengung layang diangkasa memberi harapan, dalam negeri yang kontang, kaulah wira negeri junjungan.
Karya: Hardiansyah bin abdurrahan.
Pekanbaru 18.7.2018
Mandi dan minum disungai Indragiri air mengalir ke selat Melaka
Hasrat terbawa arus, berenang, menyelam ke malaya, dada sesak, nafas tersengah dalam amukan kecewa
Tampil badan yang basah bergumal tanah dan airmuka samar terlihat, kering terbawa panas matahari
Kau bukan helang, paruh kecil cukup untuk minum seorang, degil sungguh akan berpadah malang
Tapi bendangku siapa menjaga, tanah pusaka diserang, surau lapok, pucuk kelapa melambai pulang, budaya bangsa tersampang di jerambah usang.
Hati benci tapi sayang, suara dengung layang diangkasa memberi harapan, dalam negeri yang kontang, kaulah wira negeri junjungan.
Karya: Hardiansyah bin abdurrahan.
Pekanbaru 18.7.2018
Hendak mengamuk tiada berkeris
"Hendak mengamuk tiada berkeris"
Dentum meriam menggegar bumi
Gaung menggema keserata negeri
Berdiri bangsa yang dikagumi
Laksana permata yang dicemburui
Bukan dengan senyuman diteguhkan
Dari airmata dan darah jadi taruhan
Berabad hujan panas dipayungkan
Suka dan duka sayang sayangkan
Tergoda janji bahgia semangat merdeka
Terdulu sorak negeri tergadai
Tahta diserah genggaman hampa
Patah sayap helang dilembah
Bertongkat paruh kebuluran menerpa
Kuku tidak lagi setajam baja
Menunggu maut dikala senja
Rabun dimamah usia
Bangsaku hilang arah dan tuju
Tiada dahan tempat berpaut
Disekeliling mata menuju
Berselera lezat ingin memangku
Nafsu jahat mencabik negeri
Aku marah...
Aku keciwa...
Pandang depan dan belakang
Pandang kiri dan kanan
Amarah membahang jua
Bertikam hati sendiri
Hendak mengamuk tiada berkeris
Kuasa hilang lidah tak masin
Tiada yang gerun
Senye pasir digurun
Di lautan sakti rantau bertuah
Amukan hampa pendekar hilang pandangan
Antara musuh dan kawan
Manusia dan binatang
Putih dan hitam
Halal dan haram samar menyamar
Keris sudah tiada dijunjungan
kiranya airmata tercurah dikala gelita
Menunggu cahaya di bendang pagi.
(Hardiansyah bin abdurrahman)
Pekanbaru 4.8.2018.
Dentum meriam menggegar bumi
Gaung menggema keserata negeri
Berdiri bangsa yang dikagumi
Laksana permata yang dicemburui
Bukan dengan senyuman diteguhkan
Dari airmata dan darah jadi taruhan
Berabad hujan panas dipayungkan
Suka dan duka sayang sayangkan
Tergoda janji bahgia semangat merdeka
Terdulu sorak negeri tergadai
Tahta diserah genggaman hampa
Patah sayap helang dilembah
Bertongkat paruh kebuluran menerpa
Kuku tidak lagi setajam baja
Menunggu maut dikala senja
Rabun dimamah usia
Bangsaku hilang arah dan tuju
Tiada dahan tempat berpaut
Disekeliling mata menuju
Berselera lezat ingin memangku
Nafsu jahat mencabik negeri
Aku marah...
Aku keciwa...
Pandang depan dan belakang
Pandang kiri dan kanan
Amarah membahang jua
Bertikam hati sendiri
Hendak mengamuk tiada berkeris
Kuasa hilang lidah tak masin
Tiada yang gerun
Senye pasir digurun
Di lautan sakti rantau bertuah
Amukan hampa pendekar hilang pandangan
Antara musuh dan kawan
Manusia dan binatang
Putih dan hitam
Halal dan haram samar menyamar
Keris sudah tiada dijunjungan
kiranya airmata tercurah dikala gelita
Menunggu cahaya di bendang pagi.
(Hardiansyah bin abdurrahman)
Pekanbaru 4.8.2018.


